Pages


Sabtu, 01 September 2012

dia untuk mu

Pagi itu mentari sudah menyambut. Burung-burung berkicau merdu, bunyi jangkrik telah lenyap. Sinar matahari menembus jendela kamarku yang masih tertutup tirai.

" Huh.. Silau!! Dasar matahari jelek!! Mau masuk kamarku izin dulu dong jangan asal nyelonong ajaa "

Aku beranjak dari tempat tidur, dan segera mandi.
Ku gerai rambut panjang coklat ku dengan pita di sisi kanan rambut depan, ku oleskan sedikit make-up dan lipgloss.

**

" Hallo dinaa.. Kamu tau ? semalem aku jadian loh sama angel sahabatmu itu " Bisma menghampiriku yang sedang membaca buku di perpustakaan.

' Angel ? mana mungkin ? Aku mencintai Bisma, bukankah dia sudah tau ? dan dia akan membantuku untuk dekat dengan Bisma ? tapi mengapa dia mengingkari semua itu ? Halah!! Shit!! Pengkhianat!! '  Aku meremas rok sekolahku.

Aku langsung pergi dari tempat itu, dan mencari angel. Tak mau tau dengan Bisma yang terheran-heran dengan sikapku tadi.

**

" jahat!!! " Aku menampar pipi kirinya.

" Maafkan aku dina, aku....... telah terlanjur mencintai Bisma "

" Alah!! Gue nggak mau tau!! Pokoknya gue benci sama lo ngel!! Elo sahabat nggak punya hati!! Melukai sahabat sendiri, mulai sekarang kita nggak punya ikatan persahabatan lagi!! " Emosi ku kini memuncak, dengan hati yang hancur berkeping-keping aku lari menjauhi Angel.

Terus berlari sampai ke Luar area sekolah, untungnya satpam sekolah tidak melihatku.

" GUE CAPEK HIDUP!! GUE MAU MATI!! SELAMAT TINGGAL DUNIAAAA !!! " teriak ku di tengah jalan raya.

Sebuah mobil truk molen melintas..

Dan..
Dan..
Dan..
Dan..

Dan..
Dan..
Dan..
Dan..

" Dina, jangan lakukan itu!! Dinaaaaa!!!!!!!!!!!! " Bisma berteriak di trotoar jalan raya.

Bukk..

Hantaman keras berbunyi nyaring di jalan itu, badan ku terhempas jauh bermeter-meter dari tempat sebelumnya. Darah segar merah mengental mengalir dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandanganku kian memburam, hingga ku tutup perlahan mataku.

Bisma yang melihat kejadian itu langsung membawaku ke Fasilitas Kesehatan Darurat.

**

" Ini salahku bis, aku menyesal telah melukai hati kecil seorang sahabat tercinta ku " Angel menangis di pelukan bisma

" Sudahlah, mari kita masuk.. "

**

Di ruangan serba putih, bau obat menyengat memenuhi aroma ruangan itu.

" Bis......Maa..... " Kataku lemah berputus-putus

" Bertahanlah Dinaa.. " Bisma memegang erat tangan dina.

" Mereka sudah dekat!! Mereka akan menjemputku " Aku menggigit bibir bawahku hingga berdarah

" Dinaa.. Bertahan!!!! " Angel memeluk tubuhku yang terbaring menahan sakit

" Mereka semakin dekat!! Aku merelakan cintaku Bisma kepada mu Angel, jagalah bisma. Dan Bisma jangan cewakan Angel. Ange,l Dia untuk mu. Tidak mereka mendekat.. AAAAAAAAAAAAA " Aku berteriak namun suara itu lenyap karena sang pemilik sudah tertidur untuk selama-lamanya.

Titttt...

" Innalillahiwainnalillahi roji'un "

Ku sesali cerita yang kini terjadi..
Mengapa disaat ku berdua..

Maafkan bila cintaku..
Tak mungkin ku persembahkan seutuhnya..
Maaf bila kau terluka..
Karena ku jatuh..
Di dua hati..




#End

Bunga Nisan #by : Yuki-chan

Langit terliat mendung . Seakan ikut sedih bersamaku . Aku membawa seikat bunga mawar di mulutku . Kemudian bunga-bunga itu kuletakkan diatas tanah . Tepat didepan nisan yang bertuliskan Bunga Sinta Rahayu . Aku mengelus-eluskan pipiku di batu nisan itu .
Aku menatap langit . Mencoba mengingat kembali kenangan-kenangan indah . Ya , kenangan indah yang pernah kualami bersama majikanku .
* * *
“Mochi ! Mochi...! Kamu dimana ?”
Majikanku memanggilku . Uh ! Aku harus cepat-cepat datang menemuinya . Aku menyudahi obrolanku dengan Mey . Kucing betina punya tetangga sebelah . Dia...Ehem ! Pacarku .
“Meong...(Iya )”Kataku .
“Oh , kamu disini rupanya .Mochi , kamu mau ikut aku kerja ?”Tanya
majikanku .
“Meong-meong (Mau-mau ) “Kataku .
Majikanku mengambil tongkat dan tasnya . Kemudian dia berjalan meraba-raba dengan tongkatnya . Dia berusaha mencari pintu rumah . Setelah berhasil menemukannya dia langsung membuka pintunya . Aku keluar duluan . sementara majikanku menyusul dari belakang . Tak lupa dia mengunci pintu rumahnya .
Majikanku itu bernama Bunga . Dia adalah seorang tuna netra . Tapi meskipun begitu , dia tidak mau merepotkan orang lain . Dia berusaha bekerja semampunya . Bunga , majikanku itu bekerja disebuah home industri . Setiap kali bekerja , aku selalu diajak . Aku senang memiliki majikan seperti dia . Dia sangat perhatian padaku . Terkadang ketika dia bekerja , aku pun ikut membantunya .
* * *
“Bunga , akhirnya kamu datang juga . ibu sudah tunggu dari tadi .
Seperti biasa , ya . Tolong bungkus makroni goreng ini .”
“Iya , bu .”Kata Bunga .
Ibu pemilik home industri tempat majikanku bekerja , menuntun majikanku . Dia menuntun majikanku ke tempat pembungkusan . Setelah itu , bunga duduk . Dan mulai bekerja . Meskipun tuna netra , majikanku tetap bisa bekerja layaknya orang normal . Dengan cekatan , dia mulai memasukkan makroni gorengnya kedalam plastik .
“Siti , ini .”Kata Majikanku sambil menyerahkan makroni goreng yang
sudah dibungkusi .
“Oh ya .”Kata orang yang dipanggil Siti .
Oh ya . Majikanku bekerja disini hanya sebatas membungkus makroni goreng saja . Sedangkan bagian yang lainnya , dilakukan oleh teman-teman majikanku yang normal .
* * *
Majikanku dan aku pulang dari tempat kerjanya . Kami pulang dengan menaiki becak .
“Berapa pak ?” Tanya Majikanku .
“ 7000 , mbak .”Jawab Tukang becak .
“Kok sekarang mahal pak .”Kata Majikanku .
“Ya , maklumlah , mbak . Sekarang apa-apa juga naik .”Kata Tukang
becak itu .
Bunga kemudian membayarnya . Setelah itu , aku dan Bunga masuk ke dalam rumah . Didalam tampak gelap . Bunga kemudian menyalakan lampunya . Nah , sekarang sudah terang . Tak lupa majikanku menyalakan TV-nya .
“Nah , Mochi . Kamu disini dulu ya . Lihat TV dulu . Aku mau
mandi .”Kata Majikanku .
“Meong...(Iya...)”Kataku .
“Blam !” Terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup .
Aku menungu majikanku yang sedang mandi . Aku duduk dengan santai sambil menonton TV . Ah...Acaranya membosankan . Aku meraih remote TV-nya . Kemudian kupencet dengan asal tombol-tombol angka yang ada disitu . Dan akhirnya aku menemukan acara yang pas . Hmm....Manusia itu pandai membuat hiburan ya .
Setelah mandi , majikanku kemudian makan malam . Tak lupa dia menyiapkan makan malam untukku . Yah , apalagi kalau bukan makanan favoritku , ikan gereh . Dan minuman favoritku , susu hangat . Hmm...Enak ....
* * *
“Mochi , ayo berangkat .”Ajak Bunga .
“Meong....!(Ayo...!) .”Kataku dengan semangat .
Majikanku berjalan denganku ke tempat pangkalan becak . Kemudian dia memanggil salah satu tukang becak . Dan menyuruhnya untuk mengantar ke tempat kerja majikanku .
“Mas-mas , stop .”Kata Majikanku . “Ini ya ,mas .”Kata majikanku
sambil menyerahkan uangnya .
“Oh ya . Makasih ya , mbak .”Kata tukang becak itu .
Aku dan majikanku kemudian berjalan ke tempat kerja . Tapi tiba-tiba aku merasa ada seuatu yang aneh . Sepertinya ada seseorang yang membuntuti kami . Aku mulai waspada .Karena aku merasakan orang itu semakin dekat , dekat , dan...Dia mengambil tas majikanku !
“Meong!Meong!(Copet!Copet!)”Teriakku .
“Copet...!Tolong....!”Teriak Majikanku .
Copet itu terus berlari .Aku pun berusaha mengejarnya . Dibelakangku ada beberapa orang yang ikut mengejarnya .
Aku berlari lebih cepat lagi . Mungkin mereka tahu majikanku berteriak , sehingga mereka ikut mengejar copet itu. Dan sekarang aku berada didekatnya . Aku melompat ke pantatnya , kemudian menggigitnya .
“Aw ! Apa ini ?! Huh ! Dasar kucing sialan !”Bentak si pencopet .
“Buk ! “ Pencopet itu memukulku .
“Grr...Meong!(Sialan ! Rasakan cakaranku ini !)”
Pencopet itu berhenti berlari , dia merasa kesakitan . Karena mukanya habis aku cakar . Dan itu menjadi kesempatan orang-orang yang ada di belakangku untuk memukulnya . Kemudian salah seorang dari mereka menyerahkan tasnya pada majikanku . Majikanku terlihat senang . Dan aku pun lega melihatnya .
* * *
Hari Minggu ini , majikanku mengajakku pergi ke pasar . Seperti biasa , dia mau belanja untuk kebutuhan minggu ini . Karena jaraknya dekat dengan rumah ,maka majikanku lebih memilih jalan daripada naik becak .
Sesampainya di pinggir jalan raya aku dan majikanku mulai menyebrang . Karena pasarnya terletak di seberang jalan . Ketika kami menyebrang , tiba-tiba ada mobil yang melaju ke arah kami . Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi . spontan aku langsung berlari ke seberang . Fuh , selamat . Tapi...Dimana majikanku?
Rupanya mobil tadi menabrak majikanku . Majikanku pingsan . Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menolong majikanku . Sementara itu , mobil yang menabrak majikanku tadi langsung lari begitu saja .
Setelah kejadian itu , majikanku dirawat di rumah sakit . Dia dirawat selama seminggu . Dan dalam keadaan koma .
* * *
Sekarang , dia sudah pergi untuk selama-lamanya . Yang ada disini hanyalah nisan yang bertuliskan Bunga Sinta Rahayu . Dan kenangan-kenangan indah yang pernah kualami bersama majikanku . Tiba-tiba air mataku menetes .
“Meow , meow meow ( sudahlah , jangan terus ditangisi . Kasihan nanti
dia disana .).”
Sepertinya aku kenal dengan suara ini . Aku menoleh ke belakang . Dan ternyata yang berbicara tadi adalah Mey , istriku .
“Meong , meong meong meong ( Tapi , aku sekarang jadi sebatang
kara ).”Kataku .
“Meow meow meow . Meow meow ( Kau tidak sebatang kara . Kan ada
aku dan anak-anak ).”Kata Mey .
Tiba-tiba muncul lima anak kucing dari belakang Mey . mereka berlari mendekatiku . Kelima anak kucing itu mengelus-eluskan pipnya ke kakiku .
“Meong , meong meong meong ( ayah , jangan pergi lagi ya ).”
“Meong . Meong meong (Iya , yah . Kita kan kangen sama ayah ).”
Aku tersenyum pada anak-anakku . kemudian aku melihat Mey . Dia juga tersenyum lembut padaku . Aku pun membalas senyumannya . Kemudian kucium , Mey . Mey terlihat kaget ketika kucium .
“Meong...Meong-meong (Ayo kita pulang ).”Kataku .

ketika takdir menguji cinta #cerpen Rudi Al- Farisi

KETIKA TAKDIR MENGUJI CINTA
Cerpen Rudi Al-Farisi

DUBRAK…” banting pintu kamar kost nya.
Hari yang melelahkan..” getar bibirnya pelan.

Sejurus ia langsung nyalakan AC kamarnya. ia campakkan tas kerjanya, ia rebahkan badannya..Wusss… angin sejuk langsung menampar tubuhnya. Ia lihat jam di dinding, masih jam empat, masih ada satu jam lagi. Ucapnya pelan.

Ia baringkan badannya dikasur, ia hendak istirahat sejenak sebelum berangkat kuliah, rencana hatinya. Karena baginya waktu sangat bermanfaat dalam hidupnya, aktivitasnya cukup sibuk, pagi ia bekerja, sore hari ia kuliah. Ia bekerja di sebuah perusahaan cukup besar di kota dumai itu, penghasilannya lebih dari cukup, maka dari itu, untuk sekolah adiknya, ia yang mengambil alih.
            Ti dit…ti dit…
            Tidurnya terganggu dengan dering HP nya.
Ada sms masuk, ucap batinnya. Ia baca’”
          
            Ass.. mas Irul.. sebelumnya aku
            Mohon maaf beribu maaf mas..
            Dalam keputus asaanku. Aku ingin
            Mengabarkan bahwa aku akan
            Menikah esok hari.
            Allah mentakdirkan lain.
            Doakan aku ya mas…

 Spontan ia kaget, ia bingung, ada apa yang terjadi dengan Luna. Tanya batinnya. Luna adalah pacarnya, cinta yang ia jalin hampir tiga tahun itu, tiba tiba hancur berkeping keping, tak tahu apa penyebabnya, padahal baru bulan kemaren ia mengunjungi Luna dan keluarganya. Semua berjalan lancar penuh dengan canda tawa.

Ia coba telpon, tenyata tidak aktif. Ia coba kembali, tetap masih nada yang sama. Ia bangkit dari kasurnya, semula jadwalnya hari itu hendak kuliah, sementara waktu ia batalkan dulu.

Hatinya masih risau dan bingung, sekejap mata ia langsung tancap gas menuju rumahnya Luna, dengan mengendarai sepeda motornya, ia melaju membelah jalan       dengan hatinya bertanya Tanya.

Ya Rabb… apa yang terjadi ya rabbi. Rintih hatinya bingung.
Di jalan, ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia ingin tahu segera, gerangan apa yang terjadi dengan pacarnya. Baru bulan yang lalu ia merencanakan bersama keluarganya luna untuk melamar Luna setelah kuliahnya selesai, hanya tinggal menunggu skripsinya selesai saja baru ia akan wisud
Setelah sampai didepan rumah Luna, ia langsung memarkirkan sepeda motornya, jarak rumah luna cukup jauh dari tempat kostnya,            Tok…tok…tok… assalamu’alaikum. Sapanya sambil mengetuk pintu. Ia tunggu sejenak, belum ada jawaban, ia ulangi tok..tok..tok…assalamu’alaikum..
            Wa’alaikum salam, pintunya terbuka, ternyata ibunya Luna,
Sore bu.. maaf menggangu.. Lunanya ada bu… sapanya ramah.
            Eh… nak irul, silahkan masuk dulu nak...jawab ibunya luna sambil mempersilahkan masuk. Terima kasih bu…
            Ia tatap wajah ibunya luna, ada kegelisahan dan kesedihan yang mendalam tergambar dari raut wajahnya, mukanya terlihat pucat melihat irul yang datang. Hatinya semakin bingung.
            Luna nya ada bu…? Tanya penasaran..
Ibunya luna diam menunduk sesaat… Lu..luna pergi ke pekan baru bersama ayahnya nak irul. Emang nak irul tidak diberi tahu luna..? jawab ibunya dengan getar bibir terbata bata.
            Justru itu bu.. aku ingin menanyakan perihal apa yang terjadi dengan luna,,? Tiba tiba aku mendapat sms dari luna…? irul menjelaskan maksud kedatangannya.
            Tiba tiba mata ibunya luna berkaca kaca dan menunduk diam sesaat. Ada kepedihan dalam batinnya, suasana ruangan itu menjadi hening, hati irul semakin bingung bercampur gelisah,
            Bu… apa yang terjadi dengan luna bu..? Tanyanya memecah keheningan.
Ma…maafkan kami nak irul.. maafkan kami.. takdir Allah lah yang berkuasa. Jawab ibunya luna dengan terbata.
            Sebenarnya..apa yang terjadi bu..?
            Ba…baiklah.. ibu coba menjelaskan semua, kami telah menerima kuasa takdir Allah, se..sebenarnya yang terjadi adalah bermula saat luna seminar di pekan baru. Dua hari setelah nak irul datang bulan kemaren kesini. Luna minta izin mengikuti seminar itu. Kampusnya luna mengirim utusan dua orang untuk mengikuti seminar itu. Luna salah satunya, seminar IPTEK itu diadakan pemko pekan baru. Ia berangkat bersama Indra teman kampusnya, indra adalah anak ketua yayasan kampusnya luna, seminar itu berlangsung dua hari. Kampusnya luna memberikan fasilitas dua kamar hotel untuk menginap. Tiba tiba suara ibunya luna terhenti dan tangisnya semakin menjadi jadi.
            Dengan perasaan gelisah hati irul menebak nebak apa yang terjadi.
Tenang bu..” sabar bu..
            Tangis ibunya luna diam sesaat, ia coba menerima realita yang ada, lalu ia melanjutkan,
            Sepulangnya luna dari pekan, wajah luna tampak pucat, kami coba menanyakan ada apa dengannya. Ia tak mau cerita, tetapi kami coba merayu dan memaksanya. Dengan hati menjerit dan berlinang air mata, ia menjelaskan,, bahwa ia .. bahwa ia … Dijebak dan DIPER**SA oleh indra. Tiba tiba tangis ibunya luna kembali meledak, air matanya mengalir deras, Ternyata…. indra telah lama menyukainya. ia mengetahui bahwa luna akan segera dilamar nak irul. Maka itu, dalam kesempatan adanya seminar itu, ia minta kepada

Hati irul pedih, langit seakan runtuh ia rasa. Matanya berkaca kaca, badannya kaku serasa lumpuh, bibirnya

Kami pihak keluarga telah sepakat untuk menikahkan luna dengan indra. Maafkan kami nak irul..maafkan kami….Ibunya luna mengakhiri penjelasannya.

Suasana jadi mencekam, hati irul seakan ingin meledak, wajahnya menunduk, ada yang menetes dari matanya. Ia tidak kuat untuk menahan perasaannya. Ia langsung pamit,,
Ass…assalamu’alaikum bu. Saya pamit, sampaikan salam tegarku buat luna. 
Dalam perjalanan pulang bibirnya terus bertasbih, hatinya remuk, matanya terus mengalirkan sesuatu. Pernikahan yang ia rencanakan gagal, wisuda yang ia tunggu tunggu sebagai awal puncak kesuksesan masa depannya, terasa tak bermanfaat lagi. Luna adalah  gadis cantik dan jelita, pujaan hatinya itu telah terbang dibawa seekor elang yang rakus tak bermoral.

Sesampainya dikamar kostnya. Ia menangis sejadi jadinya.. ia meratap kepada tuhannya, ia mohon diberi kekuatan dan ketabahan, ia larut dalam kesedihan, tiba tiba suara adzan maghrib berkumandang ia dengar. Panggilan tuhan merasuk dalam batinnya.

Dengan berlinang air mata ia mencoba tegar menghadapi kuasa Allah itu. Ia wudhu’, ia bentangkan sejadahnya, ia bertakbir.

Usai sholat, ia munajat kepada rabbnya. Ia bertafakkur, ia roboh bersujud dihadapan takdir Allah. Ia utarakan kegundahan hatinya. Ia berharap diberikan cinta diatas cinta.

 Enam bulan telah berlalu, dengan hati yang tegar ia selesaikan kuliahnya. Kini ia akan meraih gelar S1 nya. Namun dari hari kehari bayangan luna masih saja hadir dalam benaknya. Tanpa kabar, tanpa pertemuan, dan tanpa penjelasan terakhir dari bibir luna. setelah hari yang pahit itu. Ia coba menata kembali masa depannya.

Di hari wisudanya itu. Sengaja ia panggil ibunya dari kampung untuk mendampinginya. Senyum ibunya itulah yang membuat ia cukup terhibur menghadapi hari yang ia tunggu tunggu dulu. Hari yang semula ia rencanakan untuk melamar luna. tapi keadaan berubah. Dengan bantuan Allahlah ia sanggup menghadapi semuanya.
Tiba tiba suasana Aula gedung itu bertasbih. Acara wisuda heboh dengan kedatangan sosok bidadari yang anggun jelita. Mata semua lelaki memandang kearahnya. Ia menoleh. Subhanallah…” batin nya bertasbih. Sosok itu adalah luna. wajahnya yang dibalut jubah dan jilbab putih itu seakan membuat ia seperti bidadari yang baru turun dari langit.

Hatinya berdesir, jantungnya berdegup kencang. Sama seperti rasa pertama kali ia berjumpa dengan luna dulu. Alangkah beruntung orang yang menikahinya..” Batinnya mengupat..

Astaghpirullah…ia sudah menikah,, aku haram memikirkannya. getar bibirnya menepis perasaannya,
Ibunya tersenyum melihat perubahan pada anaknya. Apa lagi rul..” kamu udah pantas menikah.. kerjaanmu sudah mapan, sarjana pun sudah ditangan, semua para ibu ibu ingin bermenantukan kamu. Canda ibunya, karena ibunya tidak tahu dengan apa yang terjadi, ia hanya balas dengan senyuman. Tunggu aja bu.. pilihan Allah. Jawabnya.
Ternyata luna menghampirinya .
Assalamu’alaikum..Selamat ya mas… aku datang bersama ibu ingin melihatmu. Sapa luna dengan senyuman malu.
Wa’alaiku salam… terima kasih..ibu mu mana dan ….
Dan.. apa mas…? potong luna. Seakan luna sudah mengetahui maksud nya.. Oh ya.. kedatanganku kali ini hanya untuk menyampaikan maafku saja kok mas…dan menjelaskan apa yang terjadi padaku selama ini. Sekaligus menebus ketidakberdayaanku mas. Lanjut luna dengan wajah menunduk dengan matanya menetes kan sesuatu.
Belum sempat bertanya lagi, irul diajak luna bicara empat mata. Luna hendak menjelaskan sesuatu hal yang penting seperti yang ia tunggu selama ini.
 Baik lah.. kita ke depan mushollah saja.
Dengan air mata yang terus jatuh, luna coba menenangkan diri.
Ia menjelaskan apa yang terjadi selama ini.

Mungkin mas… telah diberi tahu ibu kejadian yang menimpaku. Tetapi semua itu berubah, ternyata takdir Allah berubah lagi. aku terus berdo’a kepada Allah, agar diberi kekuatan untuk menjalani hidup.

Umur pernikahanku dengan lelaki itu hanya bertahan satu minggu, setelah acara pesta pernikahan kami di pekan baru usai, tanpa melalui malam pertama ia lebih memilih merayakan pesta kemenangannya bersama teman temannya, pada malam itu ia bersama komplotannya merayakan pesta narkoba, dan naas, malam itu juga ia over dosis dan dibawa kerumah sakit, 1 minggu ia koma tak sadarkan diri, lalu ia tewas, aku hanya melihat proses kuasa Allah itu dengan bersyukur, Allah maha tahu penderitaan hambanya. Maka dari itu mas… Allah sedang menguji diriku.. statusku sekarang janda mas.. jelas luna panjang lebar dengan hati tegar.
Jadi ..? Ucap irul ceplos sambil melihat kondisi Luna.

Oh ya… aku sekali lagi bersyukur kepada Allah, Setelah seminggu kematian brengsek itu, aku memeriksakan diri ke dokter. Ternyata kesucianku masih utuh. Brengsek itu hanya menjebakku agar ia punya alasan untuk menikahiku. Begitu lah kisah hidupku mas… Allah masih menyayangiku..

Mendengar semua penjelasan itu, hati irul berdesir, setetes embun masuk ke dalam batinnya. Ternyata ujian Allah telah berakhir. Ia bertakbir dalam hati. Ia hendak langsung melamar luna hari itu juga.